Adi Cahaya

Belajar Bahasa dan Sastra

LightBlog

Breaking

Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Friday, 2 March 2018

Friday, March 02, 2018

Contoh Naskah Drama Sederhana


DIAM MATI PERLAHAN,
ATAU BERGERAK MENGHADAPI KEMATIAN UNTUK HIDUP

karya: Usa Adicahya (2017)


Di sebuah rumah dengan tekstur bangunan kuno terjadi perdebatan antara orang yang mau merdeka dan orang yang merasa sudah merdeka. mereka merencanakan bagaimana caranya mereka agar terlepas dari cengkrama penguasa tanah air mereka. agar mereka jadi pemain dalam panggung mereka bukan jadi penonton yang dipaksa untuk ketawa, dipaksa untuk memberi tanggapan bagus atas lakon mereka yang padahal hati mereka teriris perih dan ingin cepat mengeluarkan orang asing itu dan diisi oleh mereka sendiri pemilik panggung tanah air ini.

Pak kiayi :
“Selama ini, selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun kita jadi tamu di di tanah sendiri, kita jadi penonton di acara kita sendiri, lakon kita di ambil alih oleh orang lain. Kita harus bergerak, kita tidak boleh mari kutu menyaksikan gelagak tawa para lakon itu dan kita terpaksa ikut tawa padahal hati kita menangis, kita harus dan akan maju berjalan sampai kaki berdarah, sampai keringat tak lagi menetes. Allah hu Akbar…………!!!”
“Allahu Akhbar……………!!!”, serentak semua orang mengucapkannya.
Herman:
“Betul kata pak kiyai, kita harus bertindak secepatnya. Tapi kita akan main cantik, jangan sampai mata mereka sampai mendahului kita”.
Ahari :
“Sabar, sabarlah dulu pak kiyai, bapa-bapa. Kita tidak berlu cape – cape bertindak secepat ini yang hanya akan menumpahkan darah atau mati satu per satu. Lihatlah mereka mulai baik terhadap kita, kita tinggal turuti kemauan mereka, maka merekapun akan turuti kemauan kita”.

Herman :
“Itu karna kamu bekerja dengan mereka!”
Herman membentak Ahari  sambil menunjukanya. Semua orang yang hadir seketika diam. Keadaan hening

Herman:
“Itu karna kamu digaji sama mereka, Semetara masih banya orang-orang disekitar kita yang nangis kelaparan, Tak pernahkah kau memikirkan Saudara kita, sekeliling kita. Kau hanya memetingkan dirimu  sendiri !!!”

Ahari :
“Bukankah kau juga bekerja untukmereka?”
Ahari menjawab dengan nada rendah.

Herman :
“Ya, memang. Memang betul saya bekerja untuk Mereka, tapi itu dulu. Setelah aku masuk sel tahanan karena membantu paman Chun ketika aku bebas aku pulang aku tidak lagi mau berlama-lama mengikuti aliran sungai yang justru menghanyutkan saudaraku menghanyutkan kita semua. Aku bekerja untuk mereka bukan untuk hidup enak, bukan untuk uang. Tapi aku bekerja agar aku bisa mempelajari apa yang mereka lakukan apa yang mereka pelajari”.
Tegas herman.

Ahari :
“Itu hanya alas an kamu saja kan? Kau sebenarnya betah bukan bergabung dengan mereka. Makan enak tidur nyenyak, kau jangan bohong Herman”.
Ahari nyeleneh dengan memasang muka jutek dan tidak enak bila dipandang

Herman :
“Kau yang pembohong..! kau penghianat..! kau lebih memilih untuk ikut orang asing daripada saudaramu sendiri. dimana hatimu…!”
Herman menjawab dengan nada tinggi, emosinya mulai naik

Pak kiyai :
“Sudah, sudah, sudah, stop. Pertengkaran kalian hanya akan membuan suasana semakin gaduh saja. Untuk saat ini ga penting siapa kita, tidak penting posisi kita. Karena yang terpenting bagaimana caranya membentuk rasa kesatuan dan rasa persaudaraan. Jangan sampe kita justru terpecah belah”.
Pak kiyai mencoba menenangkan perdebatan Herman dan Ahari.

Herman :
“Iya pak kiyai. Tapi orang macam dia yang akan memecah kita. Dia penghianat atas saudaranya sendiri, dia minum dan makan darah kita”.

Pak kiyai :
“Ahari… sebaiknya kau berpikir sebelum bicara, sebelum bertindak. Ini tanah air kita, apa kau tidak pernah berpikir bahwa selama ini kita telah diperbudak, kita membajak sawah bagai disawah milik kita yang hasilnya bukan untuk kita nikmati. Apa kau tidak membuka matamu kita bagai hewan yang bekerja tapi hanya dikasih rumput”.

Ahari :
“Tapi pak kiyai. Perlawanan kita hanya akan sia-sia, kita tidak punya kekuatan”.
Ahari seolah tidak peduli dengan nasihat pak kiyai, justru menyangkalnya.

Pak kiyai :
“Itu artinya kau menyerah sebelum berperang. Kita memang tidak punya kekuatan tapi apa kau mau kita selamanya ditindas. Kekuatan kita adalah persatuan batin dan rasa senasib, kita kuat jika kita mau, kita kuat jika kita satu misi. Kau berpikir terlalu dangkal”.
Tegas pak kiyai dengan serius, tapi tetap tenang.

Herman :
“Sebaiknya kau pergi dari sini Ahari…!”
Amarah herman kian menjadi jadi kepada ahari, tapi ahari tetap seperti orang yang tuli.
Dia tidak mendengar semua nasihat pak kiyai

Ahari :
“Apa hakmu mengusir saya, kamu siapa disini?”
Mendengar perkataan itu Herman sangat kesal dan marah, tapi dia tetap sabar menahan emosinya, padahal rasanya ingin menghajarnya sampai habis.

Herman :
“Kau bener-bener sudah gila Ahari. Apa maumu?”

Ahari :
“Kau tanya apa mauku, itu pertanyaan bagus Herman. Ya jelas aku mau hidup enak, hidup lebih layak. Tidak seperti kalian yang berpikiran bodoh justru akan merugikan kita semua”.
Dengan santainya ahari menjawab

Pak kiyai :
“Masya Allah, Ahari kau ini bicara apa? Hah.! Justru kau yang bodoh, kau tidak sadar kalau kau sedang diperbodoh. Kita bertindak bukan untuk mengorbankan anggota diantara kita, justru kita berusaha menyelamatkan semua masyarakat kita”.
Herman :
“Pak kiyai betul, sebaiknya kau pergi..!”
Akhirnya emosi herman memuncak dan sejurus kemudian Herman menyerang Ahari sambil berkata “Bajingan kau, pergi kau dan jangan pernah kembali”
Seketika itu pula Ahari ketakutan melihat aksi herman dan Ahari pun terbirit-birit pergi.

Herman :
“Kalau saja Ahari tidak pergi sudah kuhabisi dia”
“Tenanglah Herman, sabar jangan hiraukan dia, masih banyak persoalan yang mesti kita rundingkan”. Kata salah seorang pria setengah baya yang tadinya duduk dekat Ahari.
Herman duduk kembali disamping pak kiyai, dan meneruskan perbincangan mereka

Herman :
“Pak kiyai, saya takut Ahari membocorkan rencana kita. Seperti yang kita ketahui sifatnya seperti apa”
Mengingat Ahari, Herman cemas jika Ahari akan laporan kepada mereka atasannya.

Pak kiyai :
“Mudah-mudahan tidak, kita berdoa saja. Kalaupun iya suatu saat dia sendiri yang akan menanggung akibatnya”

BERSAMBUNG……………………………………….

Friday, March 02, 2018

makalah Naskah, Pengarang, Pementasan, Penonton dalam drama


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Sekarang ini, drama berkembang pesat melalui sinetron yang ditayangkan di televisi. Sinetron singkatan dari sinema elektronik, yaitu film yang diputar di media elektronik. Proses pembuatan film salah satunya dimulai dengan penulisan skenario atau naskah. Penulis naskah skenario memiliki peran yang sangat penting dalam pembuatan film atau pementasan drama.
Banyak aktor dan aktris terkenal yang memulai kariernya dari dunia teater. Kepiawaian mereka dalam berakting menjadi salah satu sumber penghidupan dan bahkan dapat membuat mereka hidup layak. Sekali lagi, kemampuan seperti itu tidak datang begitu saja. Semua dijalani dengan keseriusan, ketekunan, dan kerja keras sehingga mampu mencapai posisi puncak dalam kariernya.
Henrik Johan Ibsen  adalah seorang dramatis Norwegia yang berpengaruh (lahir di SkienNorwegia20 Maret 1828 – meninggal di Kristiania (Oslo)Norwegia23 Mei1906 pada umur 78 tahun). Ia berperan besar dalam perkembangan drama realistik dan dijuluki sebagai "bapak drama modern"). Ada yang mengatakan bahwa Ibsen adalah pengarang drama yang karyanya paling banyak dipentaskan di dunia setelah Shakespeare. Dia merupakan salah seorang dramatis terpenting dalam sejarah dunia.
Ibsen mendirikan drama modern dengan memperkenalkan mata yang kritis dan penelitian yang bebas ke dalam kondisi-kondisi kehidupan serta masalah-masalah moralitas. Drama-drama zaman Victoria yang umum pada masa itu diharapkan menampilkan kisah-kisah moral dengan tokoh-tokohnya yang mulia dipertarungkan melawan kekuatan-kekuatan gelap.
Setiap drama diharapkan berakhir dengan kesimpulan yang secara moral dianggap layak, dalam arti bahwa kebaikan pasti akan menghasilkan kebahagiaan, dan imoralitas hanya akan menghasilkan penderitaan.


B.        Rumusan Masalah
1.      Apa itu naskah, pengarang, dalam drama
2.      Bagaimana pementasan drama
3.      Hal apa yang terdapat dalam pementasan drama
4.      Apa fungsi penonton terhadap pementasan drama drama

BAB II
PEMBAHASAN

C.        Pengertian Drama
Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi lakon hidup manusia yang ditulis dalam bentuk dialog dan dapat dipentaskan.

D.   Naskah, Pengarang, Pementasan, Penonton
Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan (Waluyo, 2003: 2).
Naskah drama merupakan karya sastra yang terdiri atas unsur-unsur pembangun. Naskah drama mencakup cerita yang ditulis dalam bentuk dialog dan berisi lakon hidup tokoh-tokohnya. Naskah drama memberikan gambaran pementasan yang akan dilakukan, seperti tema, amanat, tokoh-tokoh yang terlibat, dialog antartokoh, jalan cerita yang dibangun, latar yang digunakan, dan lain sebagainya.
Menurut Sendarasik naskah drama merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna bentuknya apabila belum dipentaskan. Naskah drama juga sebagai ungkapan pernyataan penulis(play wright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum juga merupakan ide dasar bagi aktor.
Berdasarkan pengertian diatas naskah drama dapat diartikan suatu karangan atau cerita yang berupa tindakan atau perbuatan yang masih berbentuk teks atau tulisan yang belum diterbitkan (pentaskan). Yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah naskah drama
 Naskah-naskah drama yang ditulis tahun 1930-an nilai sastranya cukup tinggi, tetapi kemungkinan pentasnya tidak meyakinkan. Naskah yang demikian bersifat komunikatif. Bahasanya adalah bahasa yang hidup dalam masyarakat.
Keunggulan naskah drama adalah pada konflik yang dibangun. Konflik menentukan penanjakan-penanjakan kea rah klimaks. Jawaban terhadap konflik itu akan melahirkan suspense dan kejutan. Tingkat keterampilan penulis drama ditentukan oleh keterampilan menjalin konflik yang diwarnai oleh kejutan dan suspense yang belum pernah dicipta oleh orang lain.
Naskah yang kuat jika dipentaskan akan mempunyai kemunkinan berhasil. Jikka sutradaranya mendukung cerita, peralatan teknismemadai, maka naskah yang kuat akan menghasilkan pementasan yang bermutu.
Di sisi lain yang harus diperhatikan yaitu peonton. Penonton termasuk unsur yang penting dalam suatu pementasan. Suatu pementasan tidak akan dapat berlangsung sempurna jika tidak ada penonton. Penonton biasanya menyesuaikan dengan cerita yang dimainkan dalam drama. Ada pementasan yang ditujukan untuk penonton semua usia atau hanya penonton usia tertentu, seperti anak-anak atau orang dewasa.
 Meskipun pementasan bermutu, tetapi jikan daya apresasi penonton tidak sesuai dengan jenis tontonan itu, maka pertunjukan kemungkinana gagal karena penonton tidak mampu menghayati tontonannya sesuai dengan tuntunan tontonan itu. Sebaliknya dengan daya apresiasi penonton yang cukup, pemntasandarama akan menaarik dan sukses. Ada hubungan timbal balik dan saling menentukan antara pengarang, naskah, pementasan dan penonton drama. Diperlukan kesatuan tafsir antara pengarang, pelaku pementasan dan penonton drama. Dalam hal ini kritikus drama dapat berperan mendekatkan ketiganya itu.
Dalam drama M-1 diartikan menghayalkan, M-2 berarti menuliskan, M-3 berarti memainkan, dan M-4 berarti menonton. Dalam hal ini naskah drama sebenarnya merupakan model paling utama untuk suatu pementasan drama yang baik, jika dipentaskan oleh sutradara dan aktor yang baik.
Dalam menilai suatu naskah, maka harus diperhatikan hal-hal berikut ini.
1.      tema relevan dengan keperluan pementasan
2.      konflik cukup tajam ditandai oleh plot yang penuh kejutan dan dialog yang mantap
3.      watak pelakunya mengandung pertentangan yang memungkinkan ketajaman konflik
4.      bahasanya mudah dihayati dan komunikatif
5.      mempunyai kemungkinan pementasan
sering penulis drama yang masih coba-coba menulis langsung ingin terkenal dengan cara menulis karya-karya kontemporer atau eksperimental, padahal penulis drama eksperimental harus terlebih dahulu menguasai penulisan drama biasa. Akibatnya naskah yang disusun “sok eksperimental” ini tidak memenuhi kriteria sebagai naskah yang memiliki nilai dramatic.
Untuk mengatasi masalah naskah ini, dapat ditempuh beberapa cara sebagai berikut.
1.      pusat dokumentasi sastra H. B. Jassin. Dengan mengajukan permohonan foto copy, bisa didapatkan sejumlah naskah dari dramawa-dramawan Indonesia atau naskah dari luar yang pernah dipentaskan di Indonesia.
2.      Taman Ismail Marzuki. Seksi Teater dari Dewan Kesenian Jakarta yang berkantor di TIM. Drama-drama yang dipentaskan di TIM sudah disleksi. Jadi, mutu dapat dipertanggungjawwabkan.
3.      Grup Teater. Naskah dapat diminta atau dibeli pada beberapa grup teater yang sudah mapan dan memiliki bank naskah atau penulis naskah, seperti: Teater Kecil, Teater Popuer, Teater Mandiri, Teater Koma, Teater September (Ali Sahab) dan sebagainya
4.      Memproduksi naskah sendiri. Jika mencoba menulis naskah sendiri jangan “sok modern” dan “sok kontemporer” untuk menutupi kelemahan naskahnya itu. Susunlah naskah biasa dengan kriteria penulisan penulisan seperti naskah drama konvensional dengan berpijak pada pementasan dan naskah yang cukup bermutu.
5.      Untuk dapat berlatih menulis drama dengan baik, beberapa pengalaman penulis dapat dikemukakan sebagai berilut:
a.      mulailah menulis drama dari cerita rakyat atau roman terkenal yang mempunyai unsur dramatic yang tinggi dan dapat dikemukakan dalam beberapa setting.
b.      Role Playing. Di sekolah, latihan menulis drama dapat dimulai dengan Role Playing atau bermain peran.
Role Playing dapat dikembangkan menjadi sosiodrama.
            Misalnya: mengungkapkan kembali sejarah perjuangan bangsa, atau melikiskan kepahlawanan diponegoro, wolter monginsidi, jendral sudirman dan sebagainya. Drama-drama berisi nasihat pesan khusus di televise dapat berbentuk sosiodrama. Seringkalibpesannya terlalu mencolok, sehingga unsur estetisnya kurang mendapat perhatian (unsur pendidikan harus disampaikan dalam bentuk sandi, artinya tidak terlalu semata-mata Dalam sosiodrama pemecahan masalah juga harus cukup logis, artinya harus bener-bner memecahkan masalah jangan setiap bertemu pak RT masalahnya kemudian beres, sebab pada kenyataanya tidak selalu demmikian)

E.   Pementasan Drama
Pementasan drama biasa disebut juga denganteater. Jadi, drama mencakup dua hal, yaitu drama sebagai karya sastra dan drama sebagai sebuah pementasan.
Pementasan drama merupakan gabungan antara seni sastra dan seni pertunjukan. Drama pada awalnya ditulis dalam bentuk naskah atau teks. Naskah tersebut kemudian dijadikan sebuah pementasan.
     Pementasan drama merupakan kerja kolektif. Keberhasilan suatu pementasan tidak hanya ditentukan oleh sutradara, tetapi melibatkan banyak unsur yang secara serentak dan kompleks harus mendukung pementasan itu.
     Pementasan drama merupakan karya kolektif yang dikordinasikan oleh sutradara, yaitu pekerja teater yang dengan kecakapan dan keahliannya memimpin aktor-aktris dan pekerja teknis dalam pementasan. Selain itu ada pula produser yang memberikan biaya pementasan. Biasanya sutradara tidak bisa merangkap sebagai manager pementasan, demikian juga sutradara tidak mampu mengkoordinasikan seluruh teknis. Untuk itu diadakan asisten sutradara yang tugasnya membantu sutradara dalam menangani tugas koordinasi itu, sedangkan art direction membidangi hal-hal yang bersifat artistic (bukan teknis) seperti: rias, kostum, lampu,  sound effect, dan sebagainya.

a.      Aktor dan Casting
            Aktor dan aktris merupakan tulang punggung pementasan. Dengan aktor-aktris yang tepat dan berpengalaman, dapat dimungkinkan pementasan yang bermutu,jika naskah baik dan sutradaranya cakap.
            Aktor dan aktris merupakan pelaksana pementasan yang membawakan ide cerita langsung dihadapan public. Untuk dapat berperan sebagai aktor yang baik diperlukan proses latihan yang cukup panjang. Keterbukaan jiwa untuk menerima peran yang baru merupakan syarat yang dapat mempermudah seseorang berperan dengan baik. Metode acting yang sesuai dengam masa kini adalah metode yang mementingkan latihan sukma atau latihan psikologis. Pemilihan peran yang tepat, kiranya akan membantu keberhasilan pementasan.
            Untuk suatu pementasan diperlukan suatu latihan yang terus menerus dalam waktu memadai agar pemain dapat menghayati peranannya. Latihan itu berupa latihan fisik, psikis dan penyesuaian dengan peralatan artistic serta peralatan teknis. Pemain yang mahir ber-acting, disebut aktor, yang biasanya dibedakan dengan bintang. Bintang mengandalkan kemasyhuran dan kecantikan atau ketampanan, sedangkan aktor mengandalkan pada kemampuan ber-acting. Pemain watak mampu memainkan berbagai watak dan peran.

Pemilihan aktor-aktris biasanya disebut casting. Ada 5 macam teknik casting, yaitu sebagai berikut:
1.      Casting by Ability; pemilihan peran berdasar kecakapan atau kemahiran yang sama atau mendekati peran yang dibawakan. Kecerdasan seseorang memegang peranan penting dalam membawakan peran yang sulit dan dialognya panjang. Tokoh utama suatu lakon disamping persyaratan fisik dan psikologis, juga dituntut memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, sehingga daya hafaldan daya tangkap yang cukup cepat.
2.      Casting to Type; pemilihan pemeran berdasarkan atas kecocokan fisik si pemain. Tokoh tua dibawakan oleh orang tua, tokoh pedagang dibawakan oleh orang yang berjiwa dagang, dan sebagainya.
3.      Anti Type Casting; pemilihan pemeran bertentangan dengan watak dan ciri fisik yang dibawakan. Sering pula disebut  educational casting karena bermaksud mendidik seseorang memerankan watak dan tokoh yang berlawanan dengan wataknya sendiri dan ciri fisiknya sendiri.
4.      Casting to Emotional Temperament; adalah pemilihan pemeran berdasarkan observasi kehidupan pribadi calon pemeran. Mereka yang mempunyai banyak kecocokan dengan peran yang dibawakan dalam hal emosi dan temperamennya, akan dipilih membawakan tokoh itu. Pengalaman masa lalu dalam hal emosi akan memudahkan pemeran tersebut dalam menghayati dan menampilkan dirinya sesuai dengan tuntunan cerita. Temperamen yang cocok juga akan membantu proses penghayatan diri peran yang dibawakan.
5.      Therapeutic Casting; adalah pemilihan pemeran dengan maksud untuk penyembuhan terhadap ketidaksimbangan psikologis dalam diri seseorang. Biasanya watak dan temperamen pemeran bertentangan dengan tokoh yang dibawakan. Misalnya, orang yang selalu ragu-ragu, harus berperan sebagai orang yang tegas, cepat memutuskan sesuatu. Seseorang yang curang memerankan tokoh yang jujur atau penjahat berperan sebagai polisi. Jika kelainan jiwa cukup serius, maka bimbingan khusus sutradara akan membantu proses therapeutic itu.
       Untuk dapat memilih pemeran dengan tepat, maka hendaknya pelatih drama membuat daftar yang berisi inventarisasi watak pelaku yang harus dibawakan, baik secara psikologis, fisiologis maupun sosiologis. Watak pelaku harus dirumuskan secara jelas. Sebab hanya dengan begitu, dapat dipilih pemeran lakon dengan lebih cepat.
b.      Sutradara
            Sutradara adalah orang yang berperan penting dan memiliki tanggung jawab paling besar dalam pementasan drama. Seorang sutradara bertugas memilih naskah drama yang layak untuk dipentaskan, memilih pemain yang sesuai dengan karakter tokoh dalam drama, menentukan tata panggung, tata rias, dan tata busana yang akan digunakan dalam pementasan. Tugas utama sutradara yang lainnya adalah mengarahkan seluruh jalan cerita, termasuk adegan yang dilakukan oleh pemain.
            Sutradara mempunyai tugas sentral yang berat dalam pementasan ini. Tidak hanya acting para pemain yang harus diurusinya, tetapi juga kebutuhan yang berhubungan artistic dan teknis. Music yang bagaimana yang dibutuhkan, pentas seperti apa yang harus diatur, penyiaran, tata rias, kostum dan sebagainya. Semua diatur atas persetujuan sutradara. Sebab itu, sutradara harus menguasai hal-hal yang berhubungan dengan segi artistik dan segi teknis pementasan. Lebih idealnya sekiranya pernah menangani bagian-bagian tersebut. Sutradara perlu memiliki technical know how tentang bidang teknis dan artistic pementasan, meskipun untuk bidang itu dipercayakan kepada orang lain.
            Ada beberapa tipe sutradara, yaitu sebagai berikut:
1.      Berdasarkan bagaimana mempengaruhi jiwa pemain, ada dua macam sutradara, yaitu:
a.      Sutradara teknikus, yang mementingkan segi luar yang bergemerlapan.
b.      Sutradara psikolog dramatic, yang mementingkan penggambaran watak secara psikologis dan tidak begitu menghiraukan faktor-faktor teknis atau luar. Tipe inilah yang sekarang banyak dianut, dengan pelopornya Constantin Stanislavsky dan Richard Boleslavsky. Konflik-konflik kejiwaan lebih ditonjolkan daripada hal-hal fisik dan artistic.
2.      Berdasarkan cara melatih pemain, ada tiga tipe sutradara, yaitu:
a.      Sutradara Interpretator yang hanya berpegang pada interprestasinya terhadap naskah secara kaku.
b.      Sutradara Kreator yang secara kreatif menciptakan variasi baru.
c.       Gabungan interpreator dan sekaligus creator. Sutradara tipe ini dipandang yang paling baik.
3.      Berdasarkan cara penyutradaraan, terdapat dua macam cara, yaitu:
a.      Cara Diktator atau cara Gordon Craig, yang seluruh langkah pemainnya ditentukan oleh sutradara.
b.      Cara Laissez Faire, yang aktor-aktrisnya merupakan pencipta permainan dan peranan sutradara sebagai sebagai supervisor yang membiarkan pemain melakukan proses kreatif.

c.    Penata pentas
                        Untuk menghidupkan peran di pentas, peralatan teknis akan membantu. Peralatan tersebut meliputi: pengaturan pentas (stage), dekorasi (scenery), tata lampu (lighting), tata suara (sound system), dan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pentas.

d.   Penata artistic
                        Untuk mengatur secara artistik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan secara langsung, biasanya terdapat bagian artisti. Bagian artistic berhubungan dengan tata rias (make up), tata busana (costum), tata music dan efek suara (music and sound effect).










BAB III
PENUTUP

F.    Simpulan
Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi lakon hidup manusia yang ditulis dalam bentuk dialog dan dapat dipentaskan. Drama mencakup dua kesenian, yaitu seni sastra dan seni pertunjukan. Pementasan drama disebut teater. Pementasan drama mencakup banyak unsur, yaitu naskah drama, sutradara, pemain, tata panggung, tata rias, tata busana, tata lampu, tata suara, dan penonton. Dramawan atau juga bisa disebut Sript Writer.

G.   Saran
            Setelah membaca makalah ini diharapka para mahasiswa untuk memahaminya dam mencoba membuat sebuah naskah drama dan dipentaskan, diharapkan pula untuk mencari referensi lain, baik dari buku maupun dari media internet atau media lainnya untuk menambah wawasan pengetahuan tentang drama














DAFTAR PUSTAKA






Friday, March 02, 2018

makalah jenis & konseptual drama


BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Dalam belajar bahasa Indonesia banyak sekali materi yang dipelajari baik berupa sastra maupun non sastra. Dalam penjelasan yang akan dijelaskan berikut ini adalah berupa bagian dari sastra yaitu drama. Drama ini dapat kita saksikan baik secara langsung maupun lewat televisi. Namun akan lebih seru bila kita menyaksikan drama secara langsung karena secara langsung lebih bisa menikmati dan merasakan suasananya. Berbeda lagi jika yang kita bicarakan tentang pendidikan drama. 














BAB II
PEMBAHASAN
B.    KLASIFIKASI DRAMA
1.    Tragedy (Drama Dukaatau Duka Cerita)
Tragedi adalah genre drama yang menceritakan kisah yang menyedihkan. Dalam tragedi, tokohnya biasanya memiliki kualitas-kualitas yang baik namun mengalami nasib yang buruk dan menyebabkan dirinya, atau kerabat dan sahabatnya, mengalami masalah. Drama tragedi berasal dari Yunani kuno dan biasanya dipentaskan dalam festival keagamaan. Penulis tragedi Yunani yang terkenal yaitu AiskhilosSofokles, dan Euripides, sedangkan penulis tragedi masa modern yang terkenal adalah William Shakespeare.

2.    Melodrama
a.  Melodrama adalah bentuk utama dalam teater pada abad ke-19. Akan tetapi, melodrama akhirnya digunakan dalam berbagai operaoperetmusikal, program televisi dan radio serta film.[1]Popularitas melodrama menurun pada abad ke-21, tetapi plot melodramatis masih populer dalam komik dan kartun.[2] Di zaman modern, istilah melodrama dan melodramatis lebih sering dipandang dengan negatif untuk mengacu pada setiap cerita yang menampilkan situasi sensasional dan alur cerita yang terlalu emosional yang tampaknya dirancang untuk bermain di perasaan pemirsa.[2]
b.  Secara umum, melodrama menunjukkan pandangan yang sangat dasar, seperti mengkategorikan sesuatu sebagai hal yang baik atau jahat.[2] Di setiap melodrama hampir selalu ada pahlawan yang berjuang membela kebenaran dan penjahat yang mencoba mengalahkan pahlawan. [2]
c.  Berikut ini Adalah Merupakan penjelasan, definisi serta maksud dari kata Melodrama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) :
d.  me·lo·dra·ma /mélodrama/ n 1pergelaran, spt sandiwara atau film, dng lakon yg sangat sentimental, mendebarkan, dan mengharukan, yg lebih mengutamakan ketegangan dp kebenaran; 2 Sas lakon modern yg serius, tetapi yg belum dapat disebut sbg drama duka; 3pergelaran seni deklamasi yg diiringi musik

3.    Komedi (Drama Ria)
Komedi (bahasa Yunani: κωμδία, kōmōidía) adalah suatu karya yang lucu yang pada umumnya bertujuan untuk menghibur, menimbulkan tawa, terutama di televisi, film, dan lawakan. Dalam seni teater, terutama teater Barat, komedi juga merupakan salah satu genre teater yang berasal dari Yunani Kuno.[1] Satir atau satir politik yang menggunakan jenis komedi ironi untuk menggambarkan seseorang atau sebuah institusi. Parodi menggunakan gaya ironi untuk memberikan kritikan dari dalam.
Dalam KBBI komedi adalah sandiwara ringan yang penuh dengan kelucuan meskipun kadang-kadang kelucuan itu bersifat menyindir dan berakhir dengan bahagia; drama ria;

4.    Dagelan (Farce)
Dagelan (Jawa) merupakan lawak atau sebuah adegan yang menimbulkan kelucuan. Dalam bahasa Melayu disebut juga alan-alan. Sementara dalam dialek Jakarta disebut bebodoran. Dagelan termasuk dalam salah satu seni rakyat yang sifatnya spontan. Pementasan seni ini tidak terikat pada naskah atau teks yang memberi alur cerita. Spontanitas ini merupakan improvisasi percakapan yang dilakukan oleh pemain. Dagelan didasari sebuah lakon singkat yang kemudian dikembangkan sendiri oleh pemainnya ketika pementasan dagelan berlangsung. Kelucuan diusahakan dari gerak-gerik, cara bicara, dan isi pembicaraan pemain. Sifat dagelan adalah parodi, maka efek realistis dihindari. Peran perempuan sering dimainkan oleh laki-laki. Dalam beberapa pementasan drama panjang, dagelan hadir sebagai selingan untuk mencairkan suasana. Misalnya pementasan drama terdiri dari dua babak, maka dalam pergantian babak tersebut dimainkan dagelan. Akan tetapi, ada pula pertunjukan khusus dagelan. Pertunjukan dagelan tunggal ini bisa selama 4-5 jam. Dagelan tunggal ini terdiri hanya dari satu babak saja.



E.  JENIS-JENIS DRAMA DAN KONSEPSI DRAMA
1. jenis-jenis drama
a.      Drama Pendidikan
         Istilah drama pendidikan disebut juga drama ajaran atau drama didaktis. Pelaku-pelaku drama dijadikan cermin bagi penonton dengan maksud untuk mendidik. Pada abad peretengahan, lakon menujukan pelaku-pelaku yang dipergunakan untuk melambangkan kebaikan atau keburukan, kematian, kegembiraan, persahabatan, permusuhan, dan sebagainya.
b.       Drama Duka (tragedy)
          Drama duka adalah drama yang pada akhir cerita tokohnya mengalami kedudukan. Contohnya Romeo-Juliet, Roro Mendut-Pronocitro, pada hakikatnya adalah cerita duka.
c.       Drama Ria (comedy)
          Drama ria(ng) adalah drama yang menyenangkan; cara memperoleh kesenangan pembaca tidak dengan mengorbankan struktur dramatik. Dalam komedia ria, struktur dramatic yang berwujud lakon, konflik, irama, plot, dan sebagainya, tetap dipertahankan.
d.      Closed Drama (Drama untuk Dibaca)
         Jenis drama ini hanya indah untuk bacaan. Para sastrawan yang tidak berpengalaman mementaskan drama biasanya menulis closed drama yang tidak mempunyai kemungkinan pentas atau kemungkinan pentasnya kecil.
e.       Drama Teatrikal  (Drama untuk Dipentaskan)
          Drama teatrikal memang diciptakan untuk dipentaskan. Dalam drama tetrikal mungkin nilai literernya tidak tinggi, tetapi kemungkinan untuk dipentaskan sangat tinggi. Dalam menulis drama teatrikal, penulis membayangkan panggung dan proses dan pementasan.
f.      Drama Romantik
        Jenis drama romantik ini juga disebut: drama puitis, drama lirik, dan juga disebut drama puisi atau drama berbentuk sajak. Sifat romantik terletak pada sifat lakon dan para pelakunya. Biasanya digambarkan kisah percintaaan, petualangan, cita-cita yang muluk-muluk yang semuanya menonjolkan unsur perasaaan.
G.     Drama  Adat
          drama ini mementingkan penggambaran adat-istiadat di dalam suatu masyarakat atau daerah atau suku tertentu. Dalam hal ini, drama tidak boleh bersifat imajinatif cara berpakaian, pernikahan, pemakaman, dan sebagainya harus diceritakan  sejujur mungkin  karena merupakan potret adat suatu tempat atau masyarakat.
H.     Drama Liturugi
       Drama litungi maksudnya adalah drama yang dikaitkan dengan pelaksanaan upacara agama,  baik dalam liturugi inti, maupun hanya sebagai alat memperoleh daya tarik saja.
I.      Drama Simbolis
       drama simbolis atau drama lambing adalah drama yang menggunakan lambing, artinya pelukisan lakon tidak langsung ke sasaran. Kejadian yang dilukiskan dipergunakan untuk melambangkan kejadian lain. Nama pelaku tertentu digunakan untuk melambangkan tokoh lain dalam masyarakat
J.        Monolog
         drama yang berbicara sendiri dalam sebuah drama. Pelawak-pelawak dalam ludruk dan ketoprak biasanya melakukan monolog sebelum patner mainnya dqtqng. Demikian juga dengan ketoprak, wayang kulit, dan wayang orang. Dalam wayang kulit malahan seluruh lakon itu dipentaskan secara monolog
K.     Drama Lingkungan
          Yaitu jenis drama modern yang melibatkan peenonton. Dialog dalam drama dapat ditambahkan oleh pemain sehingga penonton dilibatkan dengan lakon. Tujuan utama teater lingkungan adalah membuat tontonannya akrab dengan penonton.
L.      Komedi Intrik (Intrique Comedy)
        Komedi intrik adalah jeenis komedi yang mengundang ktawa secara langsung dengan melalui penciptaan situasi yang lucu dan bukan dari watak atau dialognya.
M.     Drama Mini Kata (teater mini kata)
          Drama mini kata adalah jenis drama dengan kata-kata seminim mungkin.
N.      Drama Radio
          Drama radio mementingkan dialog yang diucapkan lewat media radio. Jenis media ini biasanya direkam melalui kaset. Drama radio dapat juga diklasifikasikan sebagai sandiwara rekaman.
drama radio adalah drama yang ditayangkan atu dipentaskan melalui radio
O.    Drama Televisi
          Peneyusunan drama televise sama dengan penyusunannaskah film. Sebab itu, drama televisi butuh sekenario. Kelebihan drama televise adalah dalam hal flash back.
P. Drama Eksperimental
          Penamaan drama eksperimental disebabkan oleh kenyataan bahwa drama tersebut merupakan hasil eksperimen pengarangnya dan belum memasyarakat. Biasanya jenis drama eksperimental ini adalah drama non konvensional yang menyimpang dari kaidah-kaidah umum struktur lakon, baik dalam hal struktur tematik maupul dalam hal struktur kebahasaan.
Q. Sosio Drama
          Sosio drama adalah bentuk pendramatisan peristiwa-peristiwa kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat. Bentuk sosiodrama merupakan bentuk drama yang paling elementer. Ssimulasi dan role playing dapat di klasifikasikan sebagai sosio drama.
Menurut Guntur Tarigan ada tiga langkah yang harus dilalui jika seseorang mau mementaskan atau menulis sosio drama, yaitu sebagai berikut.
1.    mengemukakan suatu masalah
2.    mendramatisasikan masalah
3.    mendiskusikan hasil dramatisasi
nilai pendidikan dari sosio drama adalah sebagai berikut.
1.    melatih pelajar agar terlibat dalam persoalan hidup
2.    memberi kesempatan untuk menjiwai peran
3.    mendiskusikan nilai-nilai kehidupan
4.    menghargai pendapat orang lain
5.    membentuk kepribadian
6.    melatih penggunaan bahasa lisan dengan baik dan lancer
7.    ikut merasakan lakon secara social maupun secara psikologis
8.    melatih mengemukakan pendapat (1984: 112)
R. Melodrama
          Melodrama sering kali disebut juga drama melodis, dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1.    lakon serius, tetapi tokohnya tidak otentik seperti dalam tragedy
2.    dalam melodrama terdapat unsur-unsur perubahan
3.    mencerminkan timbulnya rasa kasihan yang sentimental
4.    tokoh utamanya adalah pahlawan yang biasanya memang di dalam perjuangan
S. Drama Absurd
         drama yg sengaja mengabaikan atau melanggar konvensi alur, penokohan, tematik; (sastra)

T. Drama Improvisasi
Improvisasi merupakan cara pengungkapan yang dilakukan secara spontan atau tanpa terencana terlebih dulu. Biasanya drama yang bersifat improvisasi hanya menggunakan kerangka naskah yang menyajikan kronologi cerita.
U. Drama Sejarah
Drama sejarah adalah drama yang menyajikan kisah sejarah dengan tokoh dan peristiwany
















BAB III
PENUTUP

1.    Simpulan
Sama halnya seperti sastra, drama yang kerap digolongkan sebagai seni pertunjukan juga mempunyai beberapa aliran. Aliran dalam drama ini memang tidak sepenuhnya mengikuti aturan atau kaku terhadap batas, mengingat drama adalah seni yang bersifat dinamis. Walaupun demikian kita dapat melihat beberapa pola yang ditunjukan berdasarkan aliran drama tersebut.
Walaupun  dalam dunia sastra dan seni kita mengenal beberapa aliran anamun untuk kesekian kali penulis harus mengatakan banwa sutu aliran tidak selamnaya tunduk dalam aliran tersebut dan bersifat kaku. Pemilahan aliran tersebut hanya melihat ciri-cirinya saja. Tidak ada peraturan khusus dalam aliran seni

2.    Saran
Setelah membaca makalah ini diharapka para mahasiswa untuk memahaminya dam mencoba membuat sebuah naskah drama dan dipentaskan, diharapkan pula untuk mencari referensi lain, baik dari buku maupun dari media internet atau media lainnya untuk menambah wawasan pengetahuan tentang drama







DAFTAR PUSTAKA