Adi Cahaya

Belajar Bahasa dan Sastra

LightBlog

Breaking

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, 2 March 2018

Friday, March 02, 2018

puisi perjuangan


Pahlawan Kehidupan

Karya : Usa Adicahya



Semerbak kuning  dari kejauhan ufuk timur
Menyaksikan keluh kesah orang orang yang
Yang mulai mendayung sampan harapan
Di lautan masa depan
Pahlawan kehidupan

Semerbak di diketinggian tanpa awan
Menyaksikan tetesan demi tetesan,
Menyaksikan jerih payah perjuangan
Membanting tulang melawan arus alam
Demi memutar roda roda kehidupan

Semerbak dari kejauhan ufuk barat
Menyaksikan detak jantung kelelahan
Memberi isyarat akhir perjuangan
Memberi isyarat saatnya menggendong
Butir butir harapan






Wednesday, 5 April 2017

Wednesday, April 05, 2017

Puisi 1000 pulau

Seribu Tapi Satu

Hancurnya negri bukan karna sistem yang ngeri tapi karna sifat pribadi.
Hancurnya moral bukan karna tidak belajar akan tetapi kurangnya spiritual.

Negri yang besar adalah ketika seribu mata tertuju pada satu objek,
ketika seribu langkah menuju satu rumah.

Negri yang besar adalah ketika setiap pribadinya bermoral, karna dengan pribadi bermoral tercipta sistem yang netral

Negri yang besar adalah ketika perbedaan adalah sama, ketika beberapa adalah satu

Dan kesatuan itu adalah ketika satu mata walau tangan berbeda, ketika satu hati walau dua kaki.

(Yusa Adicahya, April 2017)

Wednesday, 8 March 2017

Wednesday, March 08, 2017

Puisi Cinta (Roman)

    Hai gays kalian semua pasti sudah ga asing dengan puisi, menurut salahsatu ahli bahwa puisi adalah karangan terindah dari yang indah apalagi kalo puisinya aliran Roman. Nah guys di bawah merupakan beberapa puisi aliran roman.

KASMARAN
Kau di sisiku
Aku di sebelahmu
Mata adalah jembatan
Waktu adalah senyum
Yang saling mengerti


KAU TINGGALKAN AKU
Aku terdampar di hatimu, bagaikan ombak menyapuku
Kau bersihkan aku seperti hujan membasahiku
Aku tersesat dimatamu, bagai tersesat di hutan
Kau temu aku seperti kau temukan hatiku
Kau tinggalkan aku,
Bagai bunga tanpa tangkai
(Olivia L, 2007)


KANGEN
Kau tak pernah mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak pernah mengerti lulaku
Sebab cinta telah sembunyikan pisaunya
Mengingat wajahmu adalah duka
Engkau racun bagi darahku
Bila aku kangen dan sepi
Itulah aku tungku tanpa api
(W.S Rendra, 1984)


AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan
(Sapardi Djoko Dampno, 2004)


YOZUE “CUTE”
Di tengah bising kelas
Engkau selalu tak lepas 
Dari pandangan mataku
Yang selalu menjurus lakumu
Yozie “cute”.....
Itulah kau yang seperti pete
Yang suka makan sate
Juga ulahmu yang selalu pede
Wajahmu seperti bulan
Yang selalu memancar cahaya
Agar kamu tetap tertawa
(Nurita Dyah P, 2007)


JATUH CINTA
Malam pekat tak lagi terlihat
Siang terang bulan dan bintang
Pagi buta ditindas senja
Senja bertanda pagi buta
Ataukah mataku yang buta?
Senyum tanpa teman
Bicara tanpa kawan
Bukan gila
Tapi cinta
Sejak pandangan pertama 
Panah asmara telah menusuk jantungku
Hingga ku jatuh 
Hanyut
Di lautan cintanya
(Usa Adicahya 2017)


RINDUKU 
Dalam mata ada kantuk
Dalam kantuk ada mimpi
Dalam mimpi ada kita berdua
Disitu kita saling berjanji untuk setia
Saling menjaga dan saling menyayangi
Tapi ketika aku terbangun dan sadar
Ternyata kau bukan lagi miliku
Kau telah pergi
Kini ku sendiri, sepi, sunyi
Seperti tak ada bunyi
Namun mata hati tak pernah mati
Matanya indah dikenang
Senyumnya terbayang-bayang
Wajahnya nampak tak mau hilang,
Bergentayang
Suaaranya tak pernah sepi 
Disetiap sudut mimpi
(Usa Adicahya, 2017)

Sunday, 5 March 2017

Sunday, March 05, 2017

Menagih Simpati

MENAGIH SIMPATI

Seorang ibu tua
Meniti hari-hari
Tanpa sejuta
Keyakinan

Seharian mengisi waktu
Menghadap tuhan
Menadah tangan
Memanjat doa
Menaruh pengharapan

Seorang ibu tua
Adalah insan lemah
Menagih keikhlasan
Sedikit simpati
Dari titisan darah
Seorang yang bernama anak

(Hj. Rosni Binti H. Kurus)


Thursday, 2 March 2017

Thursday, March 02, 2017

Puisi Perjuangan

Pahlawan Kehidupan

Semerbak kuning dari kejauhan ufuk timur
Menyaksikan keluh kesah orang-orang yang
Mulai mendayung sampan harapan
Di lautan masa depan

Semerbak diketinggian tanpa awan
Menyaksikan tetesan demi tetesan,
Menyaksikan jerih payah perjuangan
Membanting tulang melawan arus alam
Demi memutar roda roda kehidupan

Semerbak dari kejauhan ufuk barat
Menyaksikan detak jantung kelelahan
Memberi isyarat akhir perjuangan
Memberi isyarat saatnya menggendong
Butir-butir harapan. (Karya : Usa Adicahya: 2017).


Diponegoro

Dimasa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gemtar! Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati
MAJU
Ini barisan tak bergenderang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berani
Sudah itu mati
MAJU
bagimu negri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sunggugpun dalam ajal baru tercapai jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang.
(Chairil Anwar)